Tampilkan postingan dengan label Public Opinion. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juni 2021

Gawat !! Hanya Hitungan Detik Tipe Delta Lebih Menular

Kenali lebih dekat Corona tipe Delta.

Durasi kontak yang memungkinkan transmisi yang awalnya 15 menit, saat ini jadi 5-10 detik. Artinya apa? Jangankan makan bareng, papasan aja bisa ketularan. Ketatkan tali masker, jaga udara yang keluar masuk saluran nafas kita.

Menurut ahli, varian COVID19 tipe delta lebih mudah menular utk semua umur termasuk anak-anak. Di Sydney terjadi penularan hanya dengan berpapasan.

Jadi kejadian di Bondi Junction, 1 org papasan dgn org lain papasan dalam waktu pendek (SESAAT) dan bisa menularkan (ada bukti CCTV). Hal seperti ini terjadi pada 64 kasus lainnya juga, menurut penelusuran sejauh ini.

Di India, COVID19 delta ini ada 13-14 juta kasus baru per hari pada puncaknya, menurut estimasi @IHME_UW


Untuk vaksin astrazeneca, efektivitas 2 dosis vaksin AZ mencapai 60%, kalau satu dosis 30%, tetapi daripada tidak sama sekali iya kan? Sekarang bisa vaksin dengan modal KTP, VAKSIN SECEPATNYA!

COVID19 varian delta ini airborne, artinya dia bertahan udara (kurang lebih 16 jam) artinya apa? Cuci tangan udah TIDAK cukup, jadi yangg dijaga ya udara yang keluar masuk saluran nafas kita.

Penularan COVID19 delta ini 2x lebih transmissible, dan lebih cepat, dan merupakan varian yang paling menular (contagious).







Read More

BAHAYA CORONA VARIAN DELTA


Banyak pertanyaan kepada saya soal 
Varian Delta yang bisa menginfeksi hanya dengan berpapasan dalam hitungan detik. Apakah itu lelucon? Masa iya hanya beberapa detik berpapasan dengan orang lain bisa terinfeksi? 

Ini penjelasan saya:

Yang jelas, transmisi cepat dari Varian Delta bukan candaan. Itu adalah hasil tracing di Australia untuk kasus-kasus baru. Mereka menyelidiki penularan yang terjadi di Bondi Junction Westfield, sebuah pusat perbelanjaan, yang menunjukkan bagaimana cepatnya penularan Delta.

Hal itu yang menjadi konsern para ahli, apalagi kejadiannya tidak terjadi sekali saja di sana. 

Makanya pejabat kesehatan Australia mengingatkan bahwa penularan virus tidak lagi butuh waktu hingga 15 menit, tapi dimungkinkan bisa dalam hitungan detik.

Bagaimana transmisi kontak sekilas itu bisa terjadi?

Ahli virologi Universitas Griffith Lara Herrero mengatakan, dalam momen transmisi yang terekam di CCTV itu, virus didapati bertahan di udara cukup lama—sehingga seseorang bisa menghirupnya dan terinfeksi.

Transmisi kontak sekilas ini telah didukung oleh pernyataan-pernyataan beberapa tokoh. Termasuk Menteri Kesehatan New South Wales Brad Hazzard dan juga ahli epidemiologi dunia Eric Feigl-Ding.

Itu dulu yang bisa saya sampaikan.

Dus, secara global, Varian Delta memang menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 yang tinggi di beberapa negara, termasuk Indonesia. Kabar baiknya, sebagian besar vaksin yang beredar, masih bisa bekerja melawan Varian Delta ini.

Red. 
@PofesorZubairi
Read More

Kamis, 29 Januari 2015

Matahari kita sama

Menjadi tak biasa apabila tidak seperti semestinya sebuah kekeluargaan yang anggun. meskinya tidak seperti seharusnya... yah... bagaimanapun mungkin sudah terjadi "politik balas budi". Jangan coba coba membongkar kebiasaan lama kalau tidak mau tersungkur.
Jangan lagi heran dengan kenyataan pilu yang akan menjadi pikiran ngilu menerpa prasangka-prasangka liar tak punya wadah kebajikan.

Lupa kalau label kita sama, suarakan lagi !!!, jiwa korps itu tidak lagi terdengar oleh generasi. Mala menjadi sebuah kungkungan yang terkendalikan. Hampir sudah tak menginjak bumi dan tidak menjujung langit. Menangkis kesedihan yang terombak-ambik tak karuan menerjam batu karang kesatuan batu karang padat. Lama-lama ini sudah menjadi budaya lingkungan yang tercipta harus begini.

Merindukan perubahan yang saling percaya satu sama lain dan tidak ada lagi kata ragu dengan orang yang lalu pernah mengecewakan. Indahnya saling menjaga dan membangun pondasi kebersamaan itu adalah kerinduan bersama yang masih kita rangkai meski tidak gampang. Akankah ada perubahan meski sedikit sentuhan senyum kepedulian terhadap sesama. Lalu jawablah pada dirimu yang pernah merasakan apa arti membedakan dan menyamakan ?
Read More

Jumat, 11 April 2014

Dia hanya seorang Relawan Kemanusiaan

Tak kasat mata inilah yang terjadi pada keseharian yang dialami lelaki bergigi runcing ini. kehidupan yang indah namun terselip ironi yang selalu dijalani bahkan terboikot oleh kaum yang memiliki kepercayaan lain, entahlah itu kebaikan semacam apa ? tidak banyak orang yang mengerti tentangnya bisa jadi karena dia banyak benteng-benteng kebaikan yang rapi.

Wanita itu lalu lalang sembari merasa berhati lain tidak cocok maka tidaklah perlu diajak untuk berkompromi merundingkan cerita tentang kemanusiaan. 

Lelaki itu merenungkan ujaran yang tersurat maupun tersirat. dia mencoba memahami dengan lokusi, ilokusi dan perlokusi. Dia menyadari betul dengan kejadian yang menimpanya. 

Seiring berjalannya waktu Dia menengadah memanjatkan doa kepada sang pemilik alam semesta, "apa yang terjadi pada saya, saya mohon ampun, beri rasa ikhlas, sabar, dan kuat, menjalani kehidupan yang indah ini."

Tidak berasa sudah berapa hari ini, suana semakin berbeda juga. Dia mencoba mengkondisikan jiwa dengan tenang agar baik-baik saja dan tidak ada yang dipermasalahkan. Tiba-tiba seronok ada omongan dari si pendengar itu langsung dari penutur. 

Pak tua itu menesahatinya, "kamu tidak perlu bersedih hati apa yang kamu alami semua sudah merasakannya sampai sekarangpun lubang tak kasat mata ini terus ada, jadilah jiwa yang besar." imbuhnya

Ditempat ini semacam kawah candradimuka berbagai macam polemik yang harus bisa dihadapi sendiri, kalau tidak terbiasa hatimu akan merasa sakit dan jiwa jadi lemah.

Pengkibulan "bully" sering terjadi pada sesama teman ini yang sudah berbudaya dikarangan yang penghuninya selalu siaga ini. turut prihatin apabila terlalu over akting nantinya juga toh menjadikan lubang kecil yang tak kasat mata, maka tak sepantasnya ironisme itu tidak didarah dagingkan kepada kawan.

Sewajarnya saja dalam pencangkrukkan namun adakalahnya tidak wajar kalau jauh dari sikap "Tepo Seliro", terasa mencengangkan tentang apa yang dialami sesama kawan yang tergerus ujaran pengledekan.

Sesaat dia sadar dari renungan setelah pak tua itu selesai memberi wejangan. Aku berharap orang-orang (terlibat) itu bisa menjembatani perasaan sesama saudara dan menjadikan keluarga yang sakinah mawaddah warohmah.

Seiring berjalannya rotasi bumi berputar hingga menjadikan pagi ke siang ke sore sampai malam. itu adalah kekuasaan sang pencipta "ALLAH swt", maka dari itu kita harus sadar diri karena kita adalah mahkluk kecil dan rendah. Tak seharusnya membuat sekat-sekat hitam.

Sekelebat Wanita itu tersenyum kepadanya. Dia memaknainya dengan indah dan penuh tanya, apakah itu ilokusi pujian atau ejekan. Terbesit waktu lalu mengidamkan kegiatan yang inovatif, kreatif dan aktif. Itupun sekarang menjadi abuh-abuh. Mungkin karena tidak ada kesempatan lagi.

Dia tidak pernah mengakiri jalan ceritanya dalam aksi kemanusiaan dengan putus asa, meski lelaki bergigi runcing dihujani hujatan dalam diam atau blak-blakan. Ini adalah bentuk dari cobaan hidup, maka pasti ada hikmanya.

Tetap dalam garis hati nurani dia menapakkan kaki sembari berdoa kepada Allah swt. "aku adalah makhluk yang diciptakan untuk beriman dan bertaqwa kepadanya, maka hilangkanlah membuat kebencian diantaramu."

Read More

Selasa, 02 Juli 2013

Terapi Galau ku

Galau itu badainya pikiran, geloranya perasaan. Pikiran sibuk berdebat dan saling mempertanyakan diri sendiri. Berasa seperti comberan diobok-obok anak muda pengangguran lagi nyari cacing lumbricus rubellus. Kayak meeting yang begitu ramai dan riuh rendah dan tak pernah berhenti. Telinga berdengung kepala berdenging. Tidur susah makan kagak enak. Di tempat rame kayak sepi, di tempat sepi serasa pengen ngejambak rambut sendiri. Nelen ludah aja susah, dada kek mau pecah, perut diplintir-plintir.

Nggak apa, it's ok. Galau itu emosi. Emotions are events, and events are meant to be short lived. Seperti bandul yang mengayun ke kanan dan ke kiri. Jangan nggelayut di bandulnya, tapi peganglah talinya.

1. Banyakin ibadah (tipsnya yang Maha Menciptakan, bapak, ibu, guru, ustadz, kyai, dan guru ngaji).

2. Lemesin otot dengan olah raga dan pijat urut.

3. Berbaik sangka dengan pikiran dan perasaan diri sendiri, mereka sedang bekerja keras menjawab pertanyaan dan tantang hidup. Masih untung bisa mikir dan ngerasa. Berterimakasihlah pada mereka berdua dan niatkan keduanya bekerja sama dengan bawah sadar yang jauh lebih pintar. Masih galau berarti masih hidup. Tetap bertahan sampai hari ini sebagian besar adalah peran kecerdasan bawah sadar. Tanpa bersyukur galau menjadi-jadi.

4. Berbaring atau duduklah lalu bayangin langit yang mendung dan berawan, berangsur-angsur menjadi cerah biru terang (tipsnya NLP).

5. Sukai yang baik-baik dan yang bagus-bagus. Memilih sikap dan kecenderungan sangat membantu pikiran, perasaan, dan bawah sadar untuk mengerti apa yang sebenarnya kita inginkan (tipsnya pakar bawah sadar).

6. Urus peliharaan atau bercengkrama dengan mereka. Kucing, anjing, ikan, sapi, kebo, atau gajah barangkali. Ngobrollah dengan mereka dan curhat kalo perlu. Jangan keterusan, nanti gila (tipsnya Cesar Millan).

7. Ciptakan vortex. Kalo sulit menghentikan badai, bersahabat mungkin dengannya sangat membantu. Vortex itu mata badai, pusat badai yang kuat menyedot segala yang di sekitarnya. Ciptakan badaimu sendiri, bayangin aja dia menyedot habis segala kegalauan (tipsnya Storm Chasers).

8. Bayangin ombak yang bergulung balik kembali ke laut membawa semua kegalauanmu. Lebih bagus kalo pergi ke pantai aja sekalian dan bayangin yang sama saat deburan ombak menyurut balik ke arah cakrawala. Pantai Selatan kalo perlu. Berendamlah setinggi pinggang biar kerasa banget tarikannya. Jangan terlalu ke tengah, ntar klelep (NLP lagi).

9. Ingat ini, "di sini" dan "sekarang". Galau itu sering identik dengan terus-terusan menyesali masa lalu dan sadar atau tidak sadar berprasangka buruk tentang masa depan. Perhatikan, apa yang hadir di sini dan sekarang lewat lima panca indera adalah keindahan. Buktiin aja (tipsnya Echart Tolle pakar "di sini" dan "sekarang").

10. Bayangin diri jadi Sponge Bob menyerap semua kegalauan sembari menikmati Bikini Bottom. Hai Gary... hai Patrick... hai Sandy... hai tuan Krab... hai Squidward... (tipsnya Nickleodeon).

11. Sibuklah mengurus diri. Perhatikan dari ujung jempol sampe ujung rambut kepala. Motong kuku kek, nyukur bulu betis kek, ngorek kuping kek, nyari kutu atau nyerit kek. Note: Tidak termasuk ngupil dan mencet jerawat. Ngupil terlalu sedikit pengaruhnya karena menurut statistik kita sudah terlalu sering melakukannya. Mencet jerawat justru menaikkan level galau dua atau tiga tingkat (tipsnya Dr. Frank Hladky, pakar Bio Energetics Therapy).

12. Brentiin waktu. Caranya, luangkan waktu setengah sampai satu jam mengamati yang kecil-kecil kek semut atau ncuk alias jentik nyamuk. Kalo perlu yang lebih kecil lagi pake mikroskop (tipsnya Jiddu Krishnamurti - pakar anti badai / meditasi).

13. Jadi pengamat untuk kegalauan diri sendiri. Kalo konsisten, galau tau-tau sudah berada di luar kita. Tinggal buang ke tong sampah.

Prens, Bro, Sis, hidup ini indah loh... sueeeer... !!!
Read More

Senin, 03 Juni 2013

Cantiklah dengan hati yang berjilbab

Pesan dari surga : Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-sebaiknya perhiasan dunia adalah wanita atau istri yang sholihah. 

Seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya. (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu)

Aku datang atas nama Kaum Adam
Tuk sampaikan resahnya pada Kaum hawa
Yang hitam indah terurai panjang
Dengan rangka yang memang memukau

Kadang kau aku suka,
Ku suka dengan senyummu
Hingga akhirnya diriku ingin dekat dirimu
Ujung atas hingga jengkal langkah
Kadang suka aku pandangi

Astagfirullah, maafkan aku yaa Allah
Diriku telah memuji sebuah kesalahan
Namun Alhamdulillah kini aku pun sadar
Akhirnya aku coba tuk teruskan

Wahai kaum Hawa aku pernah melihat
Melihat cahaya di balik kesalahanmu
Yaitu wajah yang lugu
Yaitu wajah yang sayu

Namun semua itu sayang seribu sayang
Karena semua itu di luar perintah-Nya
Semua itu ada di larangan-Nya
Semua itu kerugian untuk Kaum Hawa

Semua itu tiada arti
Karena kecantikanmu ada dalam kesalahan
Memang kadang aku terhindar  dari kesalahanmu
Namun sayang itu semua hanya bersifat  sementara

Wahai kaum Hawa tidak banyak yang aku minta dari dirimu
Yang aku minta keluarlah dari kesalahanmu
Segeralah kau tutup anggota tubuhmu

Wahai Kaum Hawa aku tidak mau
Dirimu terjerat seumur hidupmu dalam kesalahan
Aku ingin kau segera sadar
Dan jika kau belum sadar
Maka berlarilah hingga  kau menyadari
Semuanya dan tahu letak kesalahanmu

Wahai kaum Hawa dunia memang indah
Namun haruskah kita larut dalam keindahan yang sementara
Wahai Kaum Hawa kita ada yang menciptakan
Pastaskah kita melawan-Nya dan selalu dalam larangan-Nya

Wahai Kaum Hawa
Atas nama Kaum Adam
Aku ingin kau sadar untuk segera mungkin
Jangan tunggu hari esok
Karena mungkin kita di hari esok akan mati

Wahai Kaum Hawa  aku ingin kau benar
Dengan sehelai kain yang tak tembus pandang
Kau bentuklah kain itu seperti jubah
Lalu tutuplah si hitam yang terurai panjang
Hingga dua titik tidak terbentuk

Aku tahu semua ini berat tuk dilaksanakan
Namun kau harus ingat ini sebuah kebenaran
Dengan menutup tubuhmu
Dirimu akan mempesona

Perlu kau tahu dengan menutup tubuhmu
Kami kaum Adam telah kau selamatkan
Kau selamatkan dari derasnya dosa
Yang kita rasa bersama-sama

Untaian kata ini aku buat untuk para wanita terutama yang masih belum sempat atau masih lupa memakai jilbab.
 
Perlu kita ketahui bersama-sama bahwasanya seorang wanita yang terlihat auratnya maka, yang melihat dan yang terlihat sama-sama kena dosa. Bayangkan jika setiap detik aurat itu terlihat maka selama itu dosa mengalir dan mungkin jika di jumlah melebihi hutang bangsa ini. Masihkah kita tetap rela dosa itu tetap mengalir dan merasakan panasnya neraka kelak. Oleh karena itu cobalah untuk memulainya (memakai jilbab) saat ini jangan tunggu hari esok! "Hindari berpakain tapi telanjang" (tak berjilbab).
Read More

Selasa, 07 Mei 2013

Rajin Ibadah hanya Untuk Mengejar Dunia



Salah satu fenomena yang sering kita jumpai ketika musim UN, beberapa siswa spontan menjadi sosok yang rajin puasa sunah dan tahajud demi meraih kesuksesan ketika UN. Jika kebiasaan ini selanjutnya dirutinkan dan dikerjakan secara istiqamah, mungkin tidak menjadi tidak masalah. Namun sayangnya, umumnya yang terjadi, kebiasaan ini tiba-tiba luntur begitu UN selesai. Ada apakah gerangan dengan puasa & tahajudnya? Apakah mereka rajin puasa & tahajud hanya demi UN? Bagaimana nasib amal yang mereka kerjakan?

Berikut cuplikan artikel sangat indah, yang akan mengupas hal ini. Artikel ini kami ambil dari situs http://manisnyaiman.com, oleh Ustadz Abdullah Taslim, MA.

Berbicara tentang niat yang ikhlas berarti membahas suatu amalan hati yang paling berat untuk dilakukan seorang manusia, karena besarnya dominasi ambisi nafsu manusia yang sangat bertentangan dengan keikhlasan dalam niat, kecuali bagi orang-orang beriman yang diberi kemudahan oleh Allah dalam semua kebaikan.

Imam Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Tidak ada sesuatupun yang paling berat bagi nafsu manusia melebihi keikhlasan karena pada keikhlasan tidak ada bagian untuk nafsu.” (Jaami’ul ‘uluumi wal hikam, hlm. 17)
Semakna dengan ucapan di atas, Imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri berkata: “Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas).” (Hilyatu Thaalibil ‘ilmi, hlm. 11)

Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Adapun kesyirikan (penyimpangan) dalam niat dan keinginan (manusia) maka itu (ibaratnya seperti) lautan (luas) yang tidak bertepi dan sangat sedikit orang yang selamat dari penyimpangan tersebut. Maka barangsiapa yang menginginkan dengan amal kebaikannya selain wajah Allah, meniatkan sesuatu selain untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau selain mencari pahala dari-Nya maka sungguh dia telah berbuat syirik dalam niat dan keinginannya. Ikhlas adalah dengan seorang hamba mengikhlaskan untuk Allah (semata) semua ucapan, perbuatan, keinginan dan niatnya.” (Al-Jawaabul Kaafi, hlm. 94).

Keinginan/niat duniawi pada amal kebaikan

Termasuk penyimpangan niat yang banyak menimpa manusia dan menodai kesucian ibadah mereka, selain perbuatan riya’, adalah terselipnya niat dan keinginan duniawi pada amal ibadah yang dikerjakan manusia. Penyimpangan ini penting untuk diketahui, karena sering menimpa seorang yang berbuat amak kebaikan tapi dia tidak menyadari terselipnya niat tersebut, padahal ini termasuk bentuk kesyirikan yang bisa menodai bahkan merusak amal kebaikan seorang hamba.

Allah berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amal shaleh yang dilakukan dengan niat duniawi adalah termasuk perbuatan syirik yang bisa merusak kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya’ (memperlihatkan amal shaleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan), karena seorang yang menginginkan dunia dengan amal shaleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam meyoritas amal shaleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya’, karena riya’ biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut. (Fathul Majiid, hlm. 451)

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam kitab at-Tauhid mencantumkan sebuah bab khusus tentang masalah penting ini, yaitu bab: Termasuk (perbuatan) syirik adalah jika seseorang menginginkan dunia dengan amal (shaleh yang dilakukan)nya. (Fathul Majiid, hlm. 451)

Syaikh Shaleh bin ‘Abdil ‘Aziz Alu asy-Syaikh berkata: “Termasuk syirik kecil adalah seorang yang menginginkan (balasan di) dunia dengan amal-amal ketaatan (yang dilakukan)nya dan tidak menghendaki (balasan di) akhirat…Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia secara asal, menjadi tujuan (utama) dan (sumber) penggerak (diri mereka) adalah orang-orang kafir. Oleh karena itu, ayat ini (firman Allah di atas) turun berkenaan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi, lafazh ayat ini mencakup semua orang (kafir maupun mukmin) yang menginginkan kehidupan (balasan) duniawi dengan amal shaleh (yang dilakukan)nya.” (at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid, hlm. 404-405)

Makna dan Perbedaannya dengan riya’

‘Abdullah bin ‘Abbas berkata tentang makna ayat di atas: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia”, artinya balasan duniawi, “dan perhiasannya”, artinya harta. “Niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna”, artinya: Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan amal perbuatan mereka (di dunia) berupa kesehatan dan kegembiraan dengan harta, keluarga dan keturunan. (Fathul Majiid, hlm. 451).

Semakna dengan ucapan di atas, Imam Qatadah bin Di’amah al-Bashri berkata: “Barangsiapa yang menjadikan dunia (sebagai) target (utama), niat dan ambisinya, maka Allah akan membalas kebaikan-kebaikannya (dengan balasan) di dunia, kemudian di akhirat (kelak) dia tidak memiliki kebaikan untuk diberikan balasan. Adapun orang yang beriman, maka kebaikan-kebaikannya akan mendapat balasan di dunia dan memperoleh pahala di akhirat (kelak)” (Tafsir At-Thabari, 15/264).

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin mengisyaratkan makna lain dari perbuatan ini, yaitu seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah bukan karena riya’ atau pujian, niatnya ikhlas kerena Allah , akan tetapi dia menginginkan suatu balasan duniawi, misalnya harta, kedudukan duniawi, kesehatan pada dirinya, keluarganya atau keturunannya, dan yang semacamnya. Maka dengan amal kebaikannya dia menginginkan manfaat duniawi dan melalaikan/melupakan balasan akhirat. (al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid, 2/242)


Adapun perbedaan antara perbuatan ini dengan perbuatan riya’, maka perbuatan ini lebih luas dan lebih umum dibanding perbuatan riya’, bahkan riya’ adalah salah satu bentuk keinginan duniawi dalam beramal shaleh. (at-Tamhiid lisyarhi kitaabit tauhiid, hlm. 404)

Perbuatan riya’ bertujuan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dengan amal shaleh, sedangkan perbuatan ini tidak bertujuan untuk mendapat pujian, tapi ingin mendapatkan balasan duniawi dengan amal shaleh, seperti harta, kedudukan, kesehatan fisik dan lain-lain. (Taisiirul ‘Aziizil Hamiid, hlm. 473 dan Fathul Majiid, hlm. 451).

Dalil-dalil yang Menunjukkan Tercela dan Buruknya Perbuatan Ini


Allah berfirman:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan.” (QS Huud: 15-16).

Ayat yang mulia ini dibatasi kemutlakannya dengan firman Allah dalam ayat lain:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa (balasan dunia) yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami inginkan, kemudian Kami jadikan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS al-Israa’: 18).

Maka kesimpulan makna kedua ayat ini adalah: orang yang menginginkan balasan duniawi dengan amal shaleh yang dilakukannya, maka Allah akan memberikan balasan duniawi yang diinginkannya jika Allah menghendaki, dan terkadang dia tidak mendapatkan balasan duniawi yang diinginkannya karena Allah tidak menghendakinya. (Simak Fathul Majiid, hlm. 452).

Oleh sebab itu, semakin jelaslah keburukan dan kehinaan perbuatan ini di dunia dan akhirat, karena keinginan orang yang melakukannya untuk mendapat balasan duniawi terkadang terpenuhi dan terkadang tidak terpenuhi, semua tergantung dari kehendak Allah . Inilah balasan bagi mereka di dunia, dan di akhirat kelak mereka tidak mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun, bahkan mereka akan mendapatkan azab neraka Jahannam dalam keadaan hina dan tercela.

Benarlah Rasulullah yang bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuannya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niatnya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR Ibnu Majah 4105, Ahmad (5/183), dan dishahihkan Ibnu Hibban, al-Bushiri dan al-Albani).

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah bersabda tentang buruknya perbuatan ini: “Binasalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) emas, celakalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) perak, binasalah budak (harta berupa) pakaian indah, kalau dia mendapatkan harta tersebut maka dia akan ridha (senang), tapi kalau dia tidak mendapatkannya maka dia akan murka. Celakalah dia tersungkur wajahnya (merugi serta gagal usahanya), dan jika dia tertusuk duri (bencana akibat perbuatannya) maka dia tidak akan lepas darinya”. (HR. al-Bukhari, 2730).
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keburukan dan kehinaan perbuatan ini, karena orang yang melakukannya berarti dia menjadikan dirinya sebagai budak harta, karena harta menjadi puncak kecintaan dan keinginannya dalam setiap perbuatannya, sehingga kalau dia mendapatkannya maka dia akan ridha (senang), tapi kalau tidak maka dia akan murka.

Kemudian Rasulullah menggabarkan keadaannya yang buruk bahwa orang tersebut jika ditimpa keburukan atau bencana akibat perbuatannya maka dia tidak bisa terlepas darinya dan dia tidak akan beruntung selamanya. Maka dengan perbuatan buruk ini dia tidak mendapatkan keinginannya dan dia pun tidak bisa lepas dari keburukan yang menimpanya. Inilah keadaan orang yang menjadi budak harta. Na’uudzu billahi min dzaalik.

Beberapa Bentuk dan Contoh Keinginan Duniawi Pada Amal Kebaikan

Syaikh ‘Abdur Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh rahimahullah menukil keterangan Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah tentang bentuk-bentuk amal shaleh yang dikerjakan dengan keinginan untuk mendapatkan balasan duniawi, sebagai berikut:

a>Amal shaleh yang dikerjakan oleh banyak orang dengan mengharapkan wajah Allah (ikhlas), berupa sedekah, shalat, (menyambung) silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, tidak menzhalimi orang lain, dan lain-lain, yang dilakukan atau ditinggalkan seseorang ikhlas karena Allah, akan tetapi dia tidak menginginkan pahala di akhirat, dia hanya menginginkan balasan (duniawi) dari Allah, dengan (Allah ) menjaga hartanya dan mengembangkannya, atau memelihara istri dan anggota keluarganya, atau melanggengkan limpahan nikmat/kekayaan bagi keluarganya. Tidak ada niatnya untuk meraih Surga dan menyelamatkan diri dari (siksa) Neraka. Maka orang seperti ini akan diberikan balasan amal perbuatannya di dunia dan tidak ada bagian (balasan kebaikan) untuknya di akhirat (kelak). Bentuk inilah yang disebutkan oleh (Shahabat yang mulia) Ibnu ‘Abbas .
b> Ini lebih besar dan lebih menakutkan dari bentuk yang pertama, dan inilah yang disebutkan oleh Imam Mujahid tentang (makna) ayat di atas dan sebab turunnya, yaitu seorang yang mengerjakan amal shaleh dengan niat untuk riya’ (memamerkannya) kepada orang lain, bukan untuk mencari pahala akhirat.
c> Seorang yang mengerjakan amal shaleh dengan tujuan (untuk mendapatkan) harta, seperti orang yang berhaji untuk memperoleh harta, berhijrah untuk mendapatkan (balasan) duniawi atau untuk menikahi seorang wanita, atau berjihad untuk mendapatkan ganimah(harta rampasan perang). Bentuk ini juga disebutkan (oleh sebagian dari ulama salaf) ketika menafsirkan ayat ini. (Contoh lainnya) seperti seorang yang menuntut ilmu karena (keberadaan) madrasah milik keluarganya, usaha mereka, atau kedudukan mereka, atau seorang yang mempelajari al-Qur-an dan kontinyu melaksanakan shalat fardhu karena tugasnya di mesjid, sebagaimana ini sering terjadi.
d> Seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan niat ikhlas karena Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, akan tetapi dia pernah melakukan perbuatan kufur yang menjadikannya keluar dari agama Islam. Seperti orang-orang Yahudi dan Nashrani jika mereka beribadah kepada Allah, bersedekah, atau berpuasa dengan mengharapkan wajah Allah dan (balasan) di negeri Akhirat, juga seperti kebanyakan dari kaum muslimin yang pernah melakukan kekafiran atau kesyirikan besar yang mengeluarkan mereka dari agama Islam secara keseluruhan, meskipun mereka melakukan ketaatan kepada Allah dengan ikhlas mengharapkan ganjaran pahala dari-Nya di negeri Akhirat, akan tetapi mereka pernah melakukan perbuatan (kufur atau syirik) yang mengeluarkan mereka dari agama Islam dan ini menjadikan semua amal perbuatan mereka tidak diterima (oleh Allah ). Bentuk ini juga disebutkan dalam penafsiran ayat ini dari Anas bin Malik dan selain beliau.

Lebih lanjut, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menyebutkan beberapa contoh keinginan duniawi dengan amal shaleh yaitu:

a. Orang yang menginginkan harta, misalnya orang yang melakukan adzan (di masjid) untuk mendapatkan upah/gaji (sebagai muadzdzin), atau orang yang berhaji untuk mendapatkan harta.

b. Orang yang menginginkan kedudukan, misalnya orang yang belajar untuk mendapatkan ijazah sehingga kedudukannya semakin tinggi.

c. Orang yang menginginkan hilangnya gangguan, penyakit dan keburukan dari dirinya, misalnya orang yang beribadah kepada Allah supaya Allah memberikan baginya balasan di dunia berupa kecintaan manusia kepadanya (sehingga mereka tidak menyakitinya), dihilangkan keburukan dari dirinya, dan lain-lain.
d. Orang yang beribadah kepada Allah dengan tujuan untuk memalingkan wajah manusia kepadanya (menjadikan mereka kagum kepadanya) dengan mencintai dan menghormatinya. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain. (al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid, 2/243) 

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua yang membacanya dan menjadi sebab taufik dari Allah bagi kita untuk memurnikan tauhid dan penghambaan diri kepada-Nya serta penjagaan dari segala bentuk kesyirikan yang besar maupun kecil.
Read More

Kamis, 18 April 2013

Ingatlah kamu berasal

"Sapa wruha yen wus dadi, ingsun weruh pesti nora, ngarani namanireki." (Barangsiapa yang memahami asal muasal kejadian dirinya, maka saya berani memastikan bahwa ia tidak akan menyombongkan diri). Sifat ingin mendapat pengakuaan dan bangga terhadap keberhasilan yg diraih adalah salah satu pemberian Sang Maha Pencipta bagi manusia. Namun demikian, pengawasan dan kontrol terhadapnya agar tetap seimbang dan terukur takarannya, perlu terus dilakukan. Salah satu metodenya adalah dengan selalu menyadari asal usul kejadiannya, memahami bahwa manusia bukanlah mahluk yg tanpa batas, dan bahkan ia adalah makhluk yang sangat ringkih secara fisik. Dari sini kemudian manusia menyadari pentingnya sikap menahan diri dan sumeleh (ikhlas dan tawakkal). 
 
Makrus pejalan kaki "19-04-2013"
Read More

Rabu, 20 Maret 2013

Cinta bertepuk sebelah tangan

Dia cinta..Dia tidak cinta, Dia cinta..Dia tidak cinta, menghitung kelopak bunga yang jatuh kemudian terjawablah ternyata Dia tidak cinta. Hmm .. tak apa, karena siapa tahu ada satu kelopak bunga yang jatuh sebelum kamu memetiknya.

Disaat kita merasakan hati berdebar, pandangan yang tak bisa lepas dan perlahan mulai menyukai, inilah yang kita sebut sebagai fase awal dari sebuah rasa cinta. Berawal dari simpati ataupun benci, cinta bisa datang tanpa kita sadari. Selayaknya perasaan cinta, hal ini akan semakin indah bila seseorang yang kita cintai, juga bisa mencintai kita. Waktu yang dilalui pada saat berseminya cinta, akan menjadi sebuah kenangan manis dari sebuah perjalanan cinta. Indah, memang indah, pada saat jatuh cinta apa sih yang tidak indah ?

Tapi bagaimana halnya dengan mereka yang mencintai, tapi tidak dicintai ? Kecewa, kesal, malu dan sakit hati itu sudah pasti. Cinta bertepuk sebelah tangan, terdengar ironis memang, tapi tidak dipungkiri bahwa hal tersebut bisa terjadi kepada siapa saja. Bahkan terkadang kamu mengalaminya, kamu akan merasa bahwa kamu yang berlaku salah karena terlalu cepat menyimpulkan isi hati seseorang. Well, tak perlu mengurung diri lama-lama apalagi bersedih dengan derasnya cucuran air mata. Bangkit dari kesakitan ini, sama halnya dengan move on setelah putus cinta. Namun yang membedakan adalah kamu belum sempat menjadi kekasihnya. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut.

Ini hanyalah hubungan singkat
Percayalah, bahwa perasaan ini hanya sementara dan kamu akan dengan mudah melupakannya. Cinta bisa datang dan pergi sesuka hati, selama perasaan itu belum sampai kepada puncaknya, akan lebih baik bila segera diakhiri.

Berhenti berharap
Untuk apa menunggu cinta yang tak kunjung juga kejelasannya. Kebaikan, perhatian dan keperdualian seseorang telah membuatmu semakin berharap untuk bisa mendapatkan cintanya. Padahal, dia peduli bukan hanya kepada kamu, bukan juga karena dia cinta. Jadi, berhentilah berharap karena mungkin saja ada cinta lain yang justru sedang menunggu kamu.

Dia adalah teman
Hal yang sangat umum, bila cinta ditolak, jangankan bertemu, mendengar namanya saja sudah ogah. Bukan apa-apa, perasaan malu itu pasti ada, canggung apalagi. Tapi ketimbang menghindari, kenapa tidak untuk menjadikannya seorang teman. Orang bilang, sih, wajah tanpa dosa. Tapi tak apa, selama hubungan pertemanan masih bisa dijalin kenapa tidak. Dia mungkin pernah menolak pernyataan cinta, tapi masa iya menolak juga untuk diajak berteman. Bermusuhan itu tidak baik, lho.

Jangan menyalahkan diri sendiri
“Seandainya saja saya lebih berhati-hati dan tidak mudah jatuh cinta, hal ini pasti tidak akan pernah terjadi !” Hey .. ini tidak hanya terjadi kepada kamu. Hal ini lumrah, bisa dialami bahkan oleh seluruh manusia yang memiliki rasa cinta. Jangan khawatir, karena ini adalah proses sebelum kamu benar-benar menemukan cinta sejati.

I’m fine
Terlalu lama meratapi kesedihan akan membawa rasa sakit itu semakin dalam. “I’m fine”, katakan pada diri kamu seperti itu, maka kamu pun akan merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Jika kamu mengatakan “I’m not fine”,  maka segalanya akan dirasa jauh lebih menyakitkan. Cinta memang tidak selamanya berjalan mulus, tapi dalam setiap cerita cinta, yang tidak mulus itu terkadang perlu.
Read More