Kamis, 12 April 2012

Apa itu Dewasa?


Dewasa…
Apakah kamu sudah cukup dewasa
Mengapa saya disebut sudah dewasa?
Kenapa orang mengatakan kalau saya belum dewasa???
 
Hal ini cukup menggelitik saya ketika saya mendengar seorang wanita separuh baya sedang menelpon kerabatnya dan beliau menyinggung tentang istilah dewasa, “halaaaah kamu itu masih kecil, kamu itu belom dewasa, jadi kamu ga usah ikut-ikutan itu segala lah”..

Saya memang tidak cukup mengerti apa yang sedang ia bicarakan, tapi saya cukup tergelitik ketika wanita itu menyinggung masalah dewasa.

Sebenarnya apa sih dewasa itu???
Ketika seseorang telah dilekatkan dengan kata dewasa, mesti dan selalu identik dengan orang yang telah berpengalaman dalam hidupnya, orang yang sudah tua, ataupun orang yang lebih tua di atas kita. Bahkan ada kata-kata “walaupun usianya masih muda, dia adalah orang yang dewasa”.

Hemmmm..yaaa begitulah manusia, punya persepsi masing-masing tentang suatu hal.

Akan tetapi, istilah dewasa yang telah berkembang di masyarakat kita adalah penjelasan yang telah saya sebutkan sebelumnya di atas.

Dalam opini saya, sebenarnya bukanlah suatu masalah ketika orang sudah berpersepsi dan berpendapat mengenai dewasa. Setiap orang tentunya punya point of view nya masing-masing, begitu juga dengan saya.

Menurut saya, hal tersebut merupakan standar yang telah dutetapkan oleh masing-masing orang ketika memandang tentang dewasa. Standar yang bernilai relatif dan cenderung berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman tentunya.

Misalnya seperti ini,
si A memiliki persepsi yaitu orang dapat dikatakan dewasa ketika dia telah mencapai masa akil baliqnya, 
si B punya persepsi orang yang telah dewasa itu kalau ia sudah menikah,
si C berpendapat orang yang telah dewasa itu kalau dia mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,
si D berpandangan orang yang dewasa itu kalau dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri,
si E berpandangan kalau orang yang dewasa itu kalau dia memiliki sifat sabar dan pemaaf, dan seterusnya…

Setiap orang telah mematokkan standarnya masing-masing mengenai dewasa. Si A sampai dengan si E punya pendapat yang berbeda-beda mengenai dewasa.

Hal ini pun kadang cukup mempengaruhi penilaian seseorang terhadap orang lain ketika harus menyama ratakan pandangan mereka masing-masing mengenai dewasa.
 
Si B akan memandang si E belum dewasa, karena si E belum menikah
Si C akan memandang si C belum dewasa karena ia belum mandiri
Dan seterusnya.

Menurut saya, sebenarnya dewasa itu merupakan pemenuhan akan standar yang kita tetapkan.
Seseorang dikatakan belum/dewasa jika ia belum/sudah memenuhi standar kita masing-masing, dan standar itu pun sangat dipengaruhi lingkungan dimana ia berada.

Menurut observasi saya ketika saya bertemu, berhadapan, bercakap-cakap, bertukar pikiran maupun hanya sekedar melihat sekilas saja, ada beberapa faktor-faktor yang mungkin saja cukup mempengaruhi kedewasaan seseroang:
1. Pola asuh keluarga/orang tua
2. Lingkungan seseorang ketika tumbuh dan berkembang
3. Pengalaman hidup
4. Lekat atau tidaknya dengan orang tua
5. Teman sebaya
6. Dan lain-lain

Karena itu, wajar saja ketika orang yang usianya lebih muda dapat dikatakan dewasa menurut standar kita. Dua orang yang berusia sama pun belum dapat dikatakan sama dewasanya, semua tergantung dari faktor-faktor yang saya sebutkan di atas.

Ada beberapa contoh kasus yang mungkin bisa dijadikan sebagai pembanding :

Katakanlah A dan B, mereka sebaya, sahabat karib sejak tk sampai sekarang, mereka tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang hampir sama, karena mereka selalu menjalankan kehidupannya bersama-sama.

Dalam keluarganya A dan B sama-sama anak sulung, mereka dipercaya oleh orang tua masing-masing untuk menjadi pemimpin bagi adik-adiknya.

A dan B sama-sama berasal dari keluarga yang cukup berada dan tidak kekurangan apa pun (semua kebutuhan mereka dapat terpenuhi).

Keluarga A dan B sama-sama menganut paham demokrasi yang bebas bertanggung jawab, sehingga apapun yang telah dilakukan oleh mereka harus dipertanggung jawabkan secara jantan.

Si A selalu diperlakukan dengan “manja”, segala yang ia inginkan selalu di “iyakan” oleh orang tuanya, sedangkan si B tidak. Orang tua si B tidak demikian, mereka memperlakukan B dengan cukup keras, jadi tidak semua yang diinginkan B dapat dikabulkan oleh orang tuanya.

Suatu ketika kelurga B ditimpa musibah yang menyebabkan mereka jatuh “melarat”. Si B harus berjuang mati-matian mencari pekerjaan untuk menghidupi orang tua dan adik-adiknya.

Bahkan si B harus menyambi kerja di sela-sela kuliahnya. Tidak seperti keluarga A yang masih “baik-baik saja”.

Apa yang tengah dan telah dialami oleh kedua keluarga itu telah membentuk pemikiran, kepribadian, dan perspektif si A dan si B mengenai kehidupan.

saat ini, si A memilki pekerjaan dengan gaji yang besar. Ia senang berfoya-foya, senang “bermain” wanita, cuek dengan keluarganya dan hidupnya selalu berdasarkan gengsi dan prestise yang dimilikinya.

Sedangkan si B, ia juga telah memiliki pekerjaan dengan gaji yang besar, tetapi hidupnya berorientasi dengan berjuang untuk membahagiakan orang tua dan adik-adiknya. Ia memandang bahwa hidup itu adalah perjuangan dan tidak boleh di sia-siakan begitu saja.

Contoh kasus di atas cukup merepresentasikan penjelasan dan pemaknaan saya menurut dewasa.

Bukan hanya sekedar gaya hidup, pemikiran, perspektif, tetapi juga pengalaman hidup yang (lagi lagi) menurut saya sangat menentukan “pembentukan” diri seseorang menuju kematangan diri yang saya istilahkan dengan dewasa.

Pengalaman hidup seseorang melewati tahap-tahap dimana ia mengalami dan merasakan dinamika warna warni kehidupan. Naik turunnya grafik kehidupan seseorang ditentukan bagaimana ia menghadapi permasalahan yang dialaminya ketika hidup. Dan itu pun pasti akan menentukan tingkat kematangan seseorang.

Kedewasaan yang saya bilang adalah kematangan seseorang dalam memaknai kehidupannya sendiri, baik ketika grafik hidupnya sedang menanjak ataupun sedang menurun. Karena di situlah kita dituntut untuk lebih bijak dalam membedakan mana yang bernilai benar dan mana yang bernilai salah.

Tahap kematangan diri yang kembali saya sebut dengan dewasa dimana ia telah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Tahap “sulit/bandel/suram/kelam/hitam/buruk/brengsek/bejat/bangsat/apalah itu istilahnya, dimana ia memilih untuk tidak melanjutkannya, karena ia memiliki pemikiran bahwa itu hanyalah sebuah tahap/fase dalam kehidupannya yang akan ditentukan dalam sebuah pilihan, apakah ia akan memutuskan untuk melanjutkan tahap itu sampai ia benar-benar sadar nantinya atau apakah ia memutuskan harus meninggalkan tahap itu dan beralih ke tahap selanjutnya dan membenahi diri menuju pribadi yang lebih baik???

Itu semua ada di tangan kita masing-masing.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus